Nama : Muhammad Ilham Maujiri (50)
NIM : 1571506052
Tujuan
Tujuan pada buku Keruntuhan Jurnalisme ini yang di ciptakan oleh pak dudi iskandar dosen Universitas Budiluhur bahwa pada era modern ini banyaknya jurnalisme ada yang pro dan kontra terhadap bidang jurnalisme ini yang dimaksud pro dan kontra ialah bahwa adanya salah satu jurnalisme yang tidak independen dikarenakan adanya kepentingan kepentingan publik agar para jurnalisme ini saling menguntungkan pada satu sama lainnya. pada isi buku tersebut adanya tentang amplop besar dan amplop kecil itu bisa disebut
bahwa jurnalisme yang tidak memiliki jiwa independen. Selain itu tujuan untuk mempublikasikan buku Keruntuhan Jurnalisme ini dikarenakan mahasiswa Budiluhur di berikan tugas untuk merangkum buku yang berjudul keruntuhanjurnalisme ini oleh dosen kami pak dudi iskandar di universitas budiluhur.
BAB 1 INDIKATOR KERUNTUHAN JURNALISME
Membahas tentang runtuhnya jurnalisme di Indonesia yaitu tentang bagaimana berbagai pihak media mengeluarkan pemberitaan yang berimbang yang disebabkan jurnalisme bias itu sendiri yang menyimpang dan ada konglomerasi media yang memiliki pengaruh besar dalam struktur industri dan sistem pemproduksikan informasi berita dari media yang dimilikinya.
B. Jurnalisme dan Amplop besar
Kecepatan dan percepatan telah menyeret jurnalisme ke
dalam pusaran kompetisi global. Lidah api kapitalisme menyambar dan membakar
jurnalisme. Berita sebagai unsur atau pilar pokok tau inti dri jurnalisme
menjadi komoditas. Komoditas berita telah kehilangan elan vitalnya. Hanya
sebagai alat untuk menghasilkan keuangan. Berita bukan lagi sebagai pemproduksi
wacana yang mecerahkan; membangun kesadaran masyarakat. Pengusaha media adalah
pegusaha yang bukan orang sabar dalam berinvestasi jangka panjang tetapi
mencari keuntungan secepatnya dengan memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan.
Dekat dengan kekuasaan dekat dengan dana/keuangan
C. Jurnalisme dan Budaya copy paste
Kehadiran teknologi komunikasi dan informasi serta teknologi transportasi menyebabkan percepatan dan kecepatan dalam segala hal, termasuk dalam dunia jurnalisme, khususnya berkaitan dengan produksi berita di berbagai media. Berita yang diambil wartawan media konvensional dari media sosial nyaris tanpa di verifikasi tetapi langsung dicomot dan diunggah di situs berita tanpa peduli dengan validitas. Dengan demikian , internet telat menghadirkan berita sama hanya beda waktu pengunggahannya, bukan beda substansi yang seharusnya ada dalam setiap berita. Di sisi lain, kemajuan teknologi komunikasi juga mengakibatkan wartawan menjadi pemalas.D. Jurnalisme pembuat heboh
Kejatuhan rezim Soeharto 13 tahun silam, revolusi di belahan afrika, kredit perumahan yang macet di amerika serikat, dan berbagai peristiwa besar lainnya pernah menggemparkat jagat ini. peristiwa - peristiwa besar itu mengubah peta perjalanan secara radikal bagi yang mengalami atau terkena imbas kejadian tersebut.
E. Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
Ketika ditetapkan tersangka dalam kasus sisminbakum, Kementrian kehakiman dan ham, mantan mentri kehakiman dna ham yusril ihza mahendra mengeluhkan adanya pembunuhan karakter dan massa depan karier politiknya. Dalam pandangan yusril, tudingan korupsi di era reformasi mirip seperti tudingan keterlibatan dalam partai komunis indonesia (pki) ketika di era orde baru. Dalam catatan indonesia indikator, sepanjang tahun ini, setiap bulannya tidak pernah sepi dari pemberitaan tentang korupsi. Dalam konteks itu lah sesungguhnya korupsi sebagai agenda setting tersendiri dari masing - masing media.
F. Jurnalisme adakah etika?
Sekali lagi etika jurnalistik karena hasil kreasi manusia masih perlu diperbedakan, termasuk keberpihakan terhadap kandidat tertentu dalam kontestasi politik. Bahkan, etika dalam beberapa perspektif tergantung yang mempergunakan. Hal ini pula yang sedang terjadi pada jurnalismeonline, yang secara kasat mata sudah mengubah tradisi jurnalisme tradisional.
BAB II PENYEBAB KERUNTUHAN JURNALISME
A. Postmodernisme
Postmodernisme merupakan
gerakan komtemporer. Gerakan ini kuat dan modis. Namun, tidak jelas apa gerakan
ini. Tidak hanya sulit mempraktikanya, bahkan sulit juga menolaknya. Oleh sebab
itu, postmodernisme yang dianggap antithesis modernism bukan saja proyeksi
culture studies tetapi juga keniscayaan yang selalu mengelilingi dunia kita.
Singkat kata
postmodernisme merupakan segala bentuk refleksi kritis atas segala paradigma –
paradigma modern dan atas metafisika pada umunya. Gagasan postmodernisme adalah
semua yang ada adalah sebuah teks; bahwa bahan pokoknya teks; apapun adalah
makna – makna yang perlu diurai atau “didekonstruksi;” pandangan yang objektif
perlu dicurigai; dan hermenetika (dipahami sebagai aliran filsafat yang
bertujuan menafsirkan realitas sebagai teks).
B. Cultural Studies
Dalam cultural studies
perspektif teori komunkasi kita harus bertemu dan begelut dengan pendekatan
dekostruksi, hermeunetika, semiotika, makna hegemoni, postmodernisme, dan
realitivitas. Cultural studies diangap disiplin ilmu yang mementingkan sensasi,
menerobos wilayah kajian ilmu lain, antimetode, dan ultrasubjektif.
Kegaulan Sematik
Kebudayaan kata Bambang Sugiharto adalah salah satu dari
dua atau tiga istilah yang paling rumit dalam bahasa inggris.
Futurolog Ziauddin Sardar mencatat lima karakter utama
cultural studies,yakni :
1. Bertujuan meneliti subyek masalah di sekitar
praktik budaya dan hubungannya terhadap kekuasaan.
2. Memiliki tujuan yang obyektif dalam
memahami budaya dan bentuk-bentuknya yang kompleks dan menganalisis konteks
sosial dan politik dimana budaya itu sendiri terwujud
3. Obyek studi dan posisinya adalah kritisisme dan
aksi
4. Berusaha membuka rekonsiliasi terhadap
pengetahuan budaya dan bentuk obyektif budaya
5. Memiliki komiten pada evaluasi etnik masyarakat
sosial dan aksi politis barisan radikal Sejarah
Salah satu pemicu munculnya cultural studies adalah
kegagalan teori Karl Marx. Bahwa akan muncul revolusi yang dilakukan kaum
proletar. Dari revolusi Marx ini mengidealisasikan muncul suatu masyarakat
tanpa kelas, di satu sisi lain, dan dominasi ekonomi kaum kapitalis akan
berkurang, pada sisi lainnya.
Ada dua jalur genealogi cultural studies. Pertama,
melihat kebudayaan sebagai efek hegemoni. Kedua, yang mendapat pengaruh
poststrukturalisme.
Definisi
Cultural studies merupakan kritik atas definisi budaya
yang mengarah pada “the complex everyday world we all encounter and through
which all move”.
Asumsi Dasar
Ada dua pengaruh penting dari marxisme terhadap kajian
budaya. Pertama, untuk memahami kebudayaan. Kedua, mengasumsikan bahwa
masyarakat industri kapitalis merupakan masyarakat yang terbagi-bagi secara
tidak adil di kalangan etnik, gender, generasi, dan kelas.
Tokoh Kunci
1. Claude Shannon
2. Norbert Wiener
3. Harold D. Lasswell
4. Kurt Lewin
5. Paul F. Lazarsfeld
BAB III KEMUNCULAN
JURNALISME BARU
A. Jurnalisme dan Citizen
Jurnalisme
Semakin banyak jurnalisme
warga kian baik perkembangan informasi yang diperoleh masyarakat. Informasi
semakin beragam versi kebenaran kian banyak; verivikasi fakta bertambah plural.
Sesungguhnya yang terpenting dari jurnalisme warga ini adalah hasil kreasi
sendiri. Yakni, tulisan yang berisi reportase, liputan, wawancara, atau opini
yang dimuat dalam blog atau media pribadi.
B. Jurnalisme dan Ideologi
Ideologi memiliki
karakteristik yang khas yakni adanya keyakinan, gagasan, kelompok tertentu,
pandangan menyeluruh, politik, dan bersifat public. Karena itulah ideologi
kerap disandarkan dengan kekuasaan dan budaya politik tertentu. Dalam kajian
semiotika, ideoligi merupakan salah satu yang menjadi titik perhatiannya.
C. Jurnalisme dan
Konvergensi Media
Konvergensi adalah
perubahan teknologi, industri, budaya, dan social dalam lingkaran media
termasuk di dalamnya budaya kita.
D. Jurnalisme dan Krisis
Berita
Media utama juga harus
mencari cara untuk mengintegrasikan semua suara dunia baru yang bisa mereka
jangkau. Tugas itu menantang, tetapi penting. Idealnya, bisnis jurnalisme makin
kurang ekstraktif dan makin kolaboratif. Banyak jurnalis terhormat hari ini
percaya bahwa merangkul penuh jurnalisme warga hanya akan merusak bidang
jurnalisme. Sistem pengumpulan berita yang terpisah dan sama – sama anonim itu
tak akan sulit dibangung atau dipelihara. Dengan mengenkripsi rincian pribadi
jurnalis serta menyimpan laporan di server yang jauh, pihak – pihak yang
dirugikan oleh munculnya pers yang lebih independen akan semakin lumpuh.
E. Jurnalisme dan Media
Baru
Jurnalisme menjadi pilar
keempat demokrasi pada abad ke – 18 dan 19. Ia menjadi bagian tak terpisah dari
kemuncul suatu sistem sosial dan politik yang lebih demokratis di eropa dan
amerika utara. Perkembangan jurnalistik selanjutnya adalah ia sebagai
perusahaan komersial yang berkembang sekitar pertengahan abad ke – 19 di eropa
barat. Ini dipicu oleh munculya kebebasan sebagai salah satu hak konstitusional
dan kemunculan iklan menjanjikan pengembalian investasi, pada sisi yang
lainnya.
F. Jurnalisme dan
Pencarian Core Mining
Komunikasi mengenal dua
madzhab. Yakni, aliran penyampaian pesan (madzhab transmisi) dan aliran
pertukaran makna (madzhab semiotika). Aliran penyampaian pesan adalah yang
tertua. Elemen komunikasi lain pada madzhab peyampaian pesan ini adalah media,
noise, feedback, dan sebagainya.
G. Jurnalisme dan Pertukaran Makna
Berita adalah tulisan, tayangan, atau siaran tentang
fakta dari satu peristiwa atau kejadian yang dimuat atau disiarkan oleh media
massa dengan menggunakan konstruksi 5w+1h. Prinsip 5w+1h kini berkembang
menjadi 6w+1h dengan penambahan w keenam what next. Prinsip keenam ini muncul
belakangan seiiring dengan markanya media online yang mengejar kecepatan
penayangan / pemuatan suatu peristiwa.
H. Jurnalisme Interpretatif
Seperti dikemukakan dalam beberapa tulisan sebelumnya,
kehadiran internet sebagai pemicu munculnya situs berita (jurnalistik online)
telah menggeser model pemberitaan di media cetak, khususnya surat kabar. Semua
peristiwa yang actual yang sebelumnya digarap surat kabar, kini menjadi
konsumsi media online. Bahkan, jurnalistik online pun harus berebut berita
dengan media sosial seperti twitter untuk menyajikan berita paling actual,
bahkan masih dalam penggorengan. Selain itu, seperti biasanya karakter majalah
semi investigatife, Koran tempo tetap kerap mencantumkan seumber anonim (sumber
yang enggan disebut namanya atau tidak diungkapkan).
I. Jurnalisme, Agama dan Pertangungjawaban
Agama memiliki dua peran mulia, privat dan publik.
Dibutuhkan garis pemisah yang tegas dari dua wilayah tersebut. Pemisahan ini
menjadikan Negara tidak salah peran. Dimensi keyakinan dan ritual moralitas,
interaksi sosial, dan pengembangan masyarakat di wilayah publik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar